Sistem Digital, Warga Antusias dan Guyub Nyoblos di TPS 17 Desa Lambangsari
UMUM
Sep 20, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 56 Kali
NYOBLOS : Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Minggu (20/9/2026), berlangsung dengan suasana santai dan penuh antusiasme warga. Di TPS 17, Klaster Bima Asri RW 08, Perumahan Dukuh Bima, warga bahkan menjadikan momentum pencoblosan sebagai pesta demokrasi yang tetap guyub meski berbeda pilihan. foto : Tata Jaelani
TAMBUN SELATAN – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Minggu (20/9/2026), berlangsung dengan suasana santai dan penuh antusiasme warga. Di TPS 17, Klaster Bima Asri RW 08, Perumahan Dukuh Bima, warga bahkan menjadikan momentum pencoblosan sebagai pesta demokrasi yang tetap guyub meski berbeda pilihan.
Sebanyak 366 warga tercatat memiliki hak pilih di TPS tersebut. Mereka menentukan pilihan dari empat calon kepala desa, yakni nomor urut 1 Subur Subangkit, nomor urut 2 Hj. R. Yaceu Herliyanti, nomor urut 3 Tuti Elawati, dan nomor urut 4 Pipit Haryanti. Penetapan empat calon tersebut sebelumnya dilakukan panitia Pilkades Lambangsari menjelang pemungutan suara 20 September 2026.
Yang menarik, proses pemungutan suara di TPS 17 menggunakan sistem digital. Warga mengaku mekanisme tersebut membuat proses pencoblosan lebih praktis dan mampu mengurangi antrean.
“Ini pengalaman pertama saya di TPS 17. Buat saya pribadi, ini sangat luar biasa. Prosesnya cepat, biasanya antrean panjang, ini baru sebentar duduk sudah dipanggil,” ujar warga, Yanti Wibowo (57).
Menurut Yanti, penggunaan sistem digital membuat proses pemungutan suara terasa lebih sederhana. Warga cukup mengikuti tahapan yang diarahkan petugas hingga proses pemilihan selesai.
“Karena digital, kita langsung tempel-tempel, jadi kelihatan clean. Praktis banget. Pagi-pagi jam segini kita sudah selesai,” katanya.
Selain teknologi pemungutan suara, suasana TPS 17 juga dibuat berbeda dengan mengangkat nuansa budaya Betawi. Sejumlah warga dan petugas mengenakan pakaian tradisional, sementara ornamen ondel-ondel turut menghiasi lokasi pemungutan suara.
“Di TPS 17 ini konsepnya mengusung tema daerah, tapi Betawi. Ada ondel-ondel di belakang, kami berpakaian tradisional Jakarta, dan menampilkan line dance dengan tema Jakarta juga,” ungkap Yanti.
Bagi Yanti, suasana tersebut membuat Pilkades tidak terasa sebagai kompetisi yang menegangkan. Sebaliknya, warga datang dengan semangat kebersamaan dan tetap menghormati pilihan masing-masing.
“Dari awal Pak RW sudah menginformasikan bahwa kita mau senang-senang. Ini pesta rakyat, pesta demokrasi. Jadi tidak tegang sama sekali. Siapa pun yang menang, kita support,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan warga lainnya, Ika (52). Ia menilai penggunaan sistem digital membuat masyarakat lebih antusias karena prosesnya lebih mudah dan tidak merepotkan.
“Kalau dari warga lebih antusias karena lebih mudah, lebih praktis, jadi tidak terlalu repot. Penyuluhannya pun lebih mudah untuk petugas,” ujar Ika.
Ika juga menilai perbedaan pilihan politik di lingkungan tersebut tidak menjadi persoalan. Menurut dia, warga telah memahami rekam jejak maupun visi-misi para calon sehingga pilihan ditentukan secara pribadi tanpa harus mengganggu hubungan antarwarga.
“Saya yakin warga di sini adalah warga-warga yang cerdas dan tahu kinerja para calon. Kita semua sudah punya pilihan masing-masing, dan kalau berbeda pilihan itu berdasarkan pribadi,” katanya.
Ia menegaskan, suasana di lingkungan tempat tinggalnya tetap aman dan rukun meski warga memiliki pilihan berbeda dalam Pilkades.
“Alhamdulillah di sini aman, tidak ada gesekan. Yang penting kita aman, tenteram, rukun dan guyub di sini. Warga kami cerdas dan tahu prosedurnya,” ucap Ika.
Selain soal proses demokrasi, warga juga menyampaikan harapan kepada kepala desa terpilih. Yanti berharap persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian pada periode berikutnya, termasuk penguatan program sampah mandiri dan penyediaan peralatan pengolahan sampah.
“Kalau saya, sementara ini sudah bagus. Tapi kalau ditanya apa yang ingin diperbaiki, sampah. Kami sudah mulai sampah mandiri, ke depannya siapa pun yang menang kami minta lebih disupport, terutama alat pengolahan sampah,” tuturnya.
Ia juga berharap penataan pedagang di sepanjang jalan dapat diperhatikan agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas. Menurutnya, keberadaan tempat khusus bagi pedagang dapat menjadi solusi agar aktivitas ekonomi warga tetap berjalan tanpa membuat jalanan semrawut.
“Kalau bisa yang di pinggir jalan itu tidak banyak yang jualan. Kalau mau, dibikinkan tempat khusus. Jadi yang jualan tetap bisa berjualan, tapi jalan juga tetap clear,” pungkasnya.
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Fuad Fauzi