Sinergi Ulama dan Umaro, Bekasi Bersholawat Jadi Penguat Ikhtiar Spiritual Masyarakat
UMUM
Jul 30, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 69 Kali
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Setda Kabupaten Bekasi, Hudaya
CIKARANG TIMUR – Pemerintah Kabupaten Bekasi mendukung pelaksanaan kegiatan Bekasi Bersholawat yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi dengan mengusung tema “Ulama dan Umaro Bersinergi untuk Kabupaten Bekasi Bangkit Sejahtera”.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Graha Pariwisata, Kompleks Stadion Wibawa Mukti, Kelurahan Sertajaya, Kecamatan Cikarang Timur, Rabu, (29/07/2026).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Setda Kabupaten Bekasi, Hudaya, mengatakan kegiatan Bekasi Bersholawat merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dapat berjalan beriringan dengan berbagai upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah. Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan pendekatan secara lahiriah, tetapi juga perlu diperkuat dengan pendekatan spiritual.
“Alhamdulillah, ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh MUI Kabupaten Bekasi dan bukan kali pertama. Sebelumnya juga sudah ada kegiatan Bekasi Bersholawat. Semangat yang ingin disebarkan adalah bahwa untuk membangun Kabupaten Bekasi tidak cukup hanya dengan upaya-upaya normatif, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya-upaya spiritual,” ujar Hudaya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat Kabupaten Bekasi, khususnya umat Islam yang merupakan bagian besar dari masyarakat daerah, untuk semakin mencintai dan membiasakan membaca sholawat. Bahkan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.
“MUI mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bekasi yang beragama Islam untuk mensyiarkan sholawat dan membudayakannya di tengah masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat terus dilaksanakan untuk tahun-tahun yang akan datang,” katanya.
Hudaya menilai Bekasi Bersholawat memiliki makna penting di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana keagamaan, tetapi juga dapat memberikan dukungan moral dan semangat kebersamaan bagi seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah daerah.
“Harapan dari MUI dengan mengadakan Bekasi Bersholawat ini adalah memberikan dukungan moral pada seluruh kondisi Kabupaten Bekasi yang ada agar menjadi lebih baik lagi ke depan,” ungkapnya.
Dari sisi Pemerintah Kabupaten Bekasi, Hudaya menegaskan dukungan terhadap berbagai kegiatan yang digagas MUI, termasuk Bekasi Bersholawat. Menurutnya, penguatan nilai keagamaan dan kebersamaan masyarakat sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pembangunan karakter masyarakat.
“Untuk Pemda, kami sangat men-support upaya-upaya yang dilakukan oleh MUI Kabupaten Bekasi karena ini sejalan dengan visi dan misi Kabupaten Bekasi,” tegas Hudaya.
Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Bekasi, Prof. KH. Mahmud, menjelaskan bahwa Bekasi Bersholawat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan MUI Kabupaten Bekasi, termasuk Milad MUI ke-51, sekaligus menyambut momentum Hari Jadi Kabupaten Bekasi dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Bekasi Bersholawat ini sebenarnya merupakan rentetan dari berbagai macam kegiatan. Pertama, Milad MUI yang ke-51. Kemudian sebentar lagi kita akan menghadapi ulang tahun Kabupaten Bekasi dan Hari Kemerdekaan. Kita memilih Bekasi Bersholawat karena kondisi kita sekarang membutuhkan ikhtiar yang maksimal dalam menghadapi berbagai situasi,” jelas Prof. KH. Mahmud.
Ia menyampaikan, berbagai persoalan di bidang ekonomi, sosial, budaya dan sektor lainnya membutuhkan ikhtiar bersama dari seluruh elemen masyarakat. Karena itu, selain ikhtiar lahir melalui berbagai program pembangunan, diperlukan pula ikhtiar batin melalui doa dan pendekatan spiritual.
“Dalam menghadapi tantangan tentu kita harus punya ikhtiar semua pihak. Ada ikhtiar lahir dan ada ikhtiar batin. Ikhtiar batin itu doa. Salah satu doa yang memiliki banyak keutamaan adalah membaca sholawat. Ini sebagai ikhtiar kita agar masyarakat Bekasi gemar membaca sholawat dan akrab dengan sholawat,” tuturnya.
Menurutnya, pembiasaan membaca sholawat diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga memberikan ketenangan sekaligus memperkuat optimisme dalam menghadapi berbagai persoalan. Ia berharap ikhtiar lahir dan batin dapat berjalan beriringan dalam membangun Kabupaten Bekasi.
“Mudah-mudahan masyarakat dan pemimpin Bekasi mendapatkan rahmat Allah, pertolongan Allah dan ampunan Allah. Saya yakin kalau ikhtiarnya dua, lahir dan batin, pelan-pelan tetapi pasti kita akan bisa menyelesaikan berbagai macam persoalan,” katanya.
Prof. KH. Mahmud mengibaratkan ikhtiar lahir dan batin seperti dua sisi ban pada kendaraan yang harus sama-sama memiliki tekanan agar dapat berjalan dengan baik. Pemerintah daerah, kata dia, memiliki peran dalam menjalankan ikhtiar lahir melalui berbagai program pembangunan, sementara MUI mengambil bagian dalam memperkuat ikhtiar batin melalui kegiatan keagamaan.
“MUI mengambil bagian dengan ikhtiar batinnya menggunakan pendekatan doa melalui Bekasi Bersholawat. Jadi kalau lombanya itu hanya sebagai alat pemancing saja supaya masyarakat gemar bersholawat,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan positif di tengah masyarakat. Perlombaan membaca sholawat yang menjadi bagian dari kegiatan diharapkan menjadi sarana awal untuk membangun kecintaan masyarakat terhadap sholawat, hingga pada akhirnya menjadi kebutuhan dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Awalnya mungkin karena ada perlombaan, tetapi nanti mudah-mudahan sholawat itu menjadi sebuah kebutuhan. Seperti anak kecil, awalnya kita kasih hadiah untuk belajar sholat, tetapi akhirnya sholat menjadi sebuah kebutuhan. Kira-kira kegiatan kita arahnya ke sana,” pungkasnya. (*)
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Yus Ismail