Oleh : Aboy Maulana - Ketua Pemuda ICMI Kab Bekasi.
Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam hitungan kalender Hijriyah. Bulan yang penuh berkah penuh dengan pahala berlimpah yang disediakan. Bulan Ramadan hadir dengan satu misi suci yang dititahkan Allah kepada manusia. Misi suci yang diberlakukan kepada seluruh orang beriman agar berusaha untuk menaikan level penghambaan yaitu level takwa (QS. Al-Baqarah[2]:183)
Takwa adalah level tinggi yang akan senantiasa mendapatkan beragam reward dari Allah SWT. Orang yang mampu mencapai level takwa disebut muttakin. Reward bagi orang yang mampu mencapai level ini sungguh luar biasa. Orang yang mampu mencapai level takwa akan mendapatkan dua reward sekaligus, reward di dunia (QS. at-Talaq [65]:3) maupun reward di akhirat (QS. Ali-‘Imran[3]:15).
Secara bahasa kata takwa berasal dari kata waqā-waqȋ yang memiliki makna menjaga/melindungi dari bencana dan sesuatu yang menyakitkan (Shihab:2002:128). Lebih lanjut Quraish Shihab menjelaskan bahwa takwa merupakan sarana untuk melindungi diri manusia dari segala bencana.
Dengan demikian, tidak heran jika kata takwa dalam al-Quran disajikan cukup banyak dengan berbagai derivasinya. Inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa Allah memerintahkan orang beriman untuk sampai pada level tersebut dan salah satu cara meraihnya adalah dengan berpuasa.
Allah SWT berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah[2]:183)
Puasa yang diwajibkan di bulan Ramadan adalah sarana bagi orang beriman untuk menaikan levelnya sampai level takwa. Adapun puasa yang akan menjadikan seseorang bertakwa adalah puasa yang sebenar-benarnya. Puasa yang mengandung tiga elemen, secara syariat/ilmu fiqih, tarikat, dan hakikat. Tiga elemen ini merupakan instrumen yang tepat untuk menjadikan puasa dengan output takwa.
Puasa yang dijalankan ikhlas atas dasar penghambaan kepada Allah SWT. Puasa yang tentunya bukan hanya puasa perut saja, tetapi meliputi puasa lisan dan hati. Puasa yang dilakukan dengan cara/tariqah yang benar, tariqah puasa lahir dan tariqah puasa batin.
Dari penjelasan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa puasa yang memungkinkan seseorang mencapai level takwa adalah puasa yang dijalankan secara syariat, tarikat maupun hakikat. Puasa yang bukan hanya sekedar menahan lapar, tetapi puasa yang menjadikan lisan basah dengan kalimat zikir, dan hati terjaga dari pikiran-pikiran selain Allah SWT. Pikiran yang selalu terkoneksi dengan Allah SWT. Puasa yang melahirkan akhlak-akhlak yang baik dalam beritikad, berbicara, bertindak dan berperilaku.
Sampai dimanakah level yang sedang kita sandang saat ini? Puaskan dengan level sekarang? Tidakkah ada keingingan untuk menaikkan level agar posisi kita semakin bergengsi dan diperhitungkan Allah SWT kelak? Atau mungkin kita hanya puas dengan level yang rendah tetapi merasa nyaman karena sudah dibutakan kenikmatan dunia?
Semua adalah pilihan, mau atau tidak berupaya menaikkan level di bulan Ramadan ini. Namun, jika ada keinginan untuk menaikan level keberimanan maka inilah saat yang tepat untuk mencapainya. Ramadan adalah kesempatan satu-satunya untuk meraih takwa karena kita tidak pernah tahu Ramadan esok datang atau tidak kepada kita. **** Wallahu A’lam
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 7
Pengunjung Bulan ini : 438037
Total Pengunjung : 4104539