Oleh: KH. Ahmad Syauqi, Lc. MM - Ketua BMPS Kabupaten Bekasi
Salah satu amalan yang dianjurkan dalam bulan suci Ramadan adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT. Di antaranya adalah memohon agar dijadikan sebagai ahli surga serta meminta perlindungan dari siksa api neraka. Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk senantiasa memperbanyak zikir dan doa, terutama pada momen-momen istimewa di bulan Ramadan.
Zikir yang sering kita dengar dan lantunkan sejak awal Ramadan sejatinya merupakan bagian dari ajaran Rasulullah SAW. Dalam hadis tersebut dijelaskan beberapa amalan yang dapat dilakukan oleh seorang hamba. Pertama adalah mengucapkan kalimat zikir, kedua memohon ampun kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, ketiga meminta kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga, dan keempat memohon perlindungan dari siksaan api neraka.
Kini umat Islam telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan. Tanpa terasa, hampir satu bulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu, momentum ini hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi setiap Muslim untuk mewujudkan harapan sebagai hamba Allah, yakni meraih derajat ketakwaan di sisi-Nya. Derajat ketakwaan inilah yang menjadi tujuan utama dari ibadah puasa sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Untuk meraih derajat ketakwaan tersebut, seseorang tidak bisa hanya mengandalkan keinginan semata. Ada proses yang harus dilalui dan usaha yang perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ketakwaan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari perjuangan dan ikhtiar yang terus dilakukan oleh seorang hamba.
Dalam Al-Qur’an sendiri, kata takwa disebutkan sebanyak 258 kali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 182 kali disebutkan dalam bentuk kata kerja. Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan menuntut adanya tindakan nyata dan usaha yang dilakukan secara terus-menerus.
Upaya meraih ketakwaan dapat dilakukan melalui berbagai amalan, seperti mendekatkan diri kepada Allah, berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca dan mentadaburinya, serta mengkaji dan memahami isi kandungannya. Semua itu merupakan bagian dari proses menuju nilai-nilai ketakwaan yang diharapkan oleh setiap Muslim.
Harapan tersebut juga sejalan dengan firman Allah SWT dalam (QS : 02:183) tentang kewajiban berpuasa. Pada akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa.
Sahabat Nabi, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, pernah menjelaskan makna takwa dengan sangat mendalam. Menurut beliau, takwa adalah rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung, beramal dengan apa yang telah diturunkan-Nya melalui Al-Qur’an, serta menerima dengan penuh keridaan segala ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT.
Selain itu, Sayyidina Ali juga menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Artinya, kehidupan di dunia dijalani dengan kesadaran bahwa suatu saat manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, untuk menjadi hamba yang bertakwa diperlukan kesungguhan dan proses yang maksimal. Apa yang dilakukan saat ini, seperti bangun pada malam hari, berkumpul untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an, serta memperbanyak ibadah, merupakan bagian dari upaya meraih rida Allah SWT.
Ketika seorang hamba telah meraih rida Allah, maka derajat ketakwaan pun akan semakin dekat untuk dicapai. Itulah sebabnya setiap momentum Ramadan harus dimanfaatkan sebagai sarana memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam upaya menggapai ketakwaan, terdapat dua hubungan penting yang harus dijaga oleh setiap manusia. Pertama adalah hubungan dengan Allah atau yang dikenal dengan istilah hablum minallah. Kedua adalah hubungan dengan sesama manusia atau hablum minannas.
Hubungan dengan Allah diwujudkan melalui berbagai ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berbagai amal saleh lainnya. Semua itu menjadi bentuk penghambaan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Namun ibadah kepada Allah tidak cukup hanya sebatas hubungan vertikal semata. Seorang Muslim juga harus menjaga hubungan sosial dengan sesama manusia. Inilah yang disebut dengan hablum minannas, yaitu hubungan horizontal yang mencerminkan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut juga tercermin dalam banyak perintah Allah di dalam Al-Qur’an. Perintah untuk mendirikan salat kerap kali disandingkan dengan perintah menunaikan zakat. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ibadah kepada Allah selalu berjalan seiring dengan kepedulian sosial kepada sesama. (Bersambung)...
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 9
Pengunjung Bulan ini : 438073
Total Pengunjung : 4104575