Meraih Derajat Takwa di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan (2-Habis) )
CAHAYA RAMADHAN
Mar 18, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 120 Kali
KH. Ahmad Syauqi, Lc. MM - Ketua BMPS dan Wakil Ketua DMI Kabupaten Bekasi.
Oleh: KH. Ahmad Syauqi, Lc. MM. (*)
Tak terasa, Ramadan yang begitu dinanti perlahan berada di penghujungnya. Hari-hari yang penuh keberkahan kini memasuki fase paling istimewa, yaitu sepuluh hari terakhir. Ada rasa haru yang menyelinap, sekaligus harapan besar dalam hati: sudah sejauh mana kita memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan? Apakah kita termasuk hamba yang berhasil mendekat, atau justru masih tertinggal dalam kesibukan dunia?
Melanjutkan upaya meraih derajat takwa sebagaimana telah diuraikan pada bagian pertama, maka pada sepuluh hari terakhir Ramadan ini setiap Muslim perlu memaksimalkan amalan-amalan yang dapat menyempurnakan kualitas ibadahnya. Di antaranya adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, serta menginfakkan sebagian harta yang dimiliki sebagai bentuk kepedulian sosial dan ketaatan kepada Allah SWT.
Ketakwaan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari konsistensi atau istiqamah dalam menjalankannya. Oleh karena itu, setiap hamba dituntut untuk terus menjaga semangat beribadah, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga setelahnya.
Rasulullah SAW dalam salah satu nasihatnya kepada sahabat Abu Dzar memberikan pedoman hidup yang sangat mendasar, yakni agar senantiasa bertakwa kepada Allah di mana pun berada. Pesan ini menegaskan bahwa ketakwaan harus menjadi karakter yang melekat dalam diri seorang Muslim, baik saat sendiri maupun di tengah masyarakat.
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan agar setiap keburukan yang dilakukan segera diiringi dengan kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi manusia untuk memperbaiki diri. Kesalahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk kembali mendekat kepada Allah dengan amal-amal yang lebih baik.
Lingkungan juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter ketakwaan. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki akhlak baik, dekat dengan ulama dan para asatidz, akan membantu seseorang untuk terus berada di jalan yang benar. Sebaliknya, lingkungan yang kurang baik dapat dengan mudah memengaruhi perilaku seseorang.
Masjid menjadi salah satu tempat terbaik untuk membangun dan memperkuat karakter tersebut.
Di dalamnya, umat Islam diajak untuk memperbanyak zikir, melaksanakan i’tikaf, membaca Al-Qur’an, serta mengikuti kajian-kajian keislaman. Suasana ini mendorong lahirnya semangat berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Ketika seseorang telah mencapai derajat ketakwaan, maka akan terlihat perubahan dalam dirinya. Ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan cenderung menjauhi perbuatan maksiat. Bahkan, ketika muncul keinginan untuk berbuat dosa, Allah akan memberikan perlindungan dengan cara mengalihkan dirinya kepada hal-hal yang lebih baik.
Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Tanpa disadari, Allah menjaga langkah seorang hamba yang telah berusaha mendekat kepada-Nya. Perlindungan ini menjadi tanda bahwa Allah meridai hamba tersebut dan menghendaki kebaikan dalam hidupnya.
Keistimewaan ibadah puasa juga menjadi bagian penting dalam proses meraih ketakwaan. Dalam hadis qudsi disebutkan
"Allah berfirman: 'Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya'." (HR. Bukhari no. 1761 dan Muslim no. 1946). Bahwa puasa adalah milik Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya. Hal ini menunjukkan betapa besar nilai dan keutamaan puasa di sisi-Nya, karena tidak ada ukuran pasti dari pahala yang diberikan.
Oleh karena itu, menjelang berakhirnya Ramadan, capaian utama yang harus diraih adalah meningkatnya kualitas ketakwaan. Jangan sampai setelah Ramadan berlalu, justru semangat ibadah menjadi menurun. Sebaliknya, Ramadan harus menjadi titik awal untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan.
Perlu disadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Kesibukan, jabatan, dan berbagai urusan duniawi pada akhirnya akan berakhir. Yang akan kekal adalah kehidupan akhirat. Maka dari itu, fokus utama seorang Muslim seharusnya adalah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi tersebut.
Ibadah yang dilakukan selama Ramadan, seperti salat malam, i’tikaf, dan membaca Al-Qur’an, sejatinya adalah bagian dari upaya meraih rida Allah SWT. Inilah tujuan utama dari seluruh aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba.
Akhirnya, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat (sa’adatud darain). Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesempatan, kekuatan, dan keistiqamahan untuk terus berada di jalan-Nya serta dimampukan untuk menggapai derajat ketakwaan di sisi-Nya. Aamiin. Wallahu 'Alam Bishawab.
Berita Lainnya
Puasa Berlevel
CAHAYA RAMADHAN
Mar 7, 2026
Posted by: Newsroom Diskominfosantik