Di Balik Sampah yang Kita Hasilkan, Ada Tangan Mereka yang Menjaga Lingkungan
SOSIAL
Sep 25, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 125 Kali
SAMPAH : Pengangkutan sampah di sungai yang dilakukan oleh DLH untuk menjaga kebersihan serta membuat aliran sungai kembali lancar. foto : Fajar CQA
CIKARANG PUSAT — Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Kabupaten Bekasi dalam Angka 2026, sekitar 3,4 juta jiwa kini tinggal dan beraktivitas di wilayah ini.
Di balik pesatnya pertumbuhan ekonomi, derasnya arus urbanisasi, dan geliat investasi industri, tersimpan persoalan lingkungan yang tak sederhana: bagaimana mengelola sampah yang dihasilkan dari jutaan aktivitas manusia setiap harinya?
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi mencatat, timbulan sampah di wilayah ini mencapai sekitar 2.000 hingga 2.300 ton per hari. Jumlah yang tidak sedikit, dan tentu bukan perkara mudah untuk ditangani.
Sampah dari permukiman, jalanan, hingga berbagai kawasan aktivitas masyarakat membutuhkan penanganan setiap hari agar tidak menumpuk dan mengganggu lingkungan.
Namun, di balik tumpukan sampah yang terangkut dan jalanan yang kembali bersih, ada orang-orang yang kerap luput dari perhatian.
Mereka berangkat ketika sebagian orang masih terlelap. Menyusuri jalan, mengemudikan truk pengangkut sampah, memasuki gang-gang sempit, menyapu ruas jalan, hingga memastikan sampah dari lingkungan masyarakat dapat tertangani.
Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana dari kejauhan. Tetapi di balik sapu yang bergerak, truk yang melaju, dan sampah yang setiap hari diangkut, ada tenaga, waktu, risiko, serta tanggung jawab yang harus mereka jalani.
Siapa mereka?
Bagaimana hari-hari mereka bekerja di tengah terik matahari, hujan, bau sampah yang menyengat, hingga pekerjaan fisik yang tak ringan?
Dan apa yang membuat mereka terus bertahan ketika pekerjaan mereka kerap luput dari perhatian orang-orang yang menikmati lingkungan bersih?
Di UPTD Persampahan Wilayah I Babelan Utama, para petugas ini menjalani rutinitas yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang. Namun, di balik rutinitas tersebut tersimpan cerita tentang tanggung jawab, pengabdian, dan harapan.
Sebuah cerita tentang orang-orang yang setiap hari bekerja agar lingkungan Kabupaten Bekasi, tempat jutaan orang hidup dan beraktivitas, tetap bersih dan nyaman.
Pengawas UPTD Wilayah I Babelan Utama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Saripudin mengatakan perjuangannya bersama tim dalam mengurusi sampah dan menjaga kebersihan bukanlah hal mudah.
Wilayah kerja UPTD Persampahan Wilayah I Babelan Utama mencakup empat kecamatan, yakni Kecamatan Babelan, Tarumajaya, Cabangbungin, dan Muaragembong. Sementara Saripudin bertanggung jawab dalam pengawasan di Kecamatan Babelan.
Di wilayah tersebut, pekerjaan dilakukan bersama puluhan petugas yang terdiri atas sopir, kru pengangkut sampah, serta pesapon jalan yang membersihkan sampah di jalan dan lingkungan masyarakat.
Di Kecamatan Babelan, Saripudin bersama tim setiap hari berhadapan dengan persoalan yang sama: sampah yang terus hadir seiring dengan pertumbuhan penduduk.
Perubahannya terasa ketika Kabupaten Bekasi berkembang menjadi kawasan industri dan permukiman. Urbanisasi yang semakin masif berjalan beriringan dengan bertambahnya volume sampah.
"Sudah sangat berbeda ya dulu dengan sekarang. Terutama pertambahan penduduk yang dulunya area persawahan di Kecamatan Babelan dan Tarumajaya banyak berubah jadi perumahan. Yang dampaknya kemudian bertambahnya volume sampah, dan tidak jarang terjadinya banjir," Ungkap Saripudin.
Bagi Saripudin dan rekan-rekannya, pekerjaan tidak berhenti pada mengangkut sampah dari lingkungan warga. Mereka menjalankan rangkaian pekerjaan mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga membawa sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng di Kecamatan Setu.
Mereka juga ikut memastikan sarana dan prasarana persampahan tetap dapat digunakan untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kegiatan pelayanan persampahan tersebut, terdapat 28 armada yang setiap harinya melayani masyarakat. Armada-armada itu menjangkau sekitar 32 ribu keluarga.
Setiap hari, sampah yang dihasilkan masyarakat harus diangkut. Saripudin menyebut satu truk dapat membawa sekitar 4 hingga 5 ton sampah dalam sekali pengangkutan.
"Ya artinya, diperkirakan kalau lima ton sampah dikali 28 truk atau armada ya ada 140 ton sampah yang kami bawa ke TPA," ungkap Saripudin saat dihubungi di kantornya, Kecamatan Babelan, pada Jumat, (25/09/2026).
Angka itu menggambarkan betapa besar pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari. Namun, persoalan di lapangan tidak berhenti pada sampah yang harus diangkut.
Tim juga harus memantau dan memitigasi keberadaan tempat pembuangan sampah liar, termasuk sampah yang berada di sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS).
Masih adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan membuat persoalan persampahan menjadi pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Jalan yang dilalui publik hingga aliran sungai ikut terdampak ketika sampah dibuang tidak pada tempatnya.
"Kalau di lapangan kami menghadapi juga bagaimana saat ada mobil yang rusak, kurangnya tim karena sakit. Makanya tugas saya mengkomunikasikan ke masyarakat bila terjadi kendala-kendala teknis lapangan ini. Keluhan dari warga juga jadi motivasi buat kami untuk terus memperbaiki pelayanan kepada masyarakat. Karena persoalan ini kan kendala yang langsung ada di lapangan, bukan disengaja," Terangnya.
Hujan, kemacetan, hingga keterbatasan sarana menjadi bagian lain dari tantangan yang harus mereka hadapi.
Menurut Saripudin, keterbatasan sarana, sumber daya, dan berbagai keluhan masyarakat merupakan hal yang sering ditemui sehari-hari. Beruntung, masih banyak masyarakat yang peduli dan memahami kondisi para petugas ketika keterbatasan dan kendala ditemui di lapangan.
"Alhamdulillah sampai saat ini komunikasi antara kami dan para tokoh di perumahan, terjalin bagus. Kepercayaan masyarakat inilah yang membuat kami merasa berbesar hati mengurus sampah," Ucapnya.
Bagi Saripudin, ada alasan yang lebih besar untuk bertahan selain sekadar memenuhi kebutuhan keluarga. Ia melihat pekerjaan tersebut sebagai tanggung jawab sekaligus bagian dari amal kebaikan.
Motivasi dari tim, jelasnya selain untuk mencukupi kebutuhan keluarga masing-masing ada juga dorongan karena perbuatan baik diyakininya sebagai tanggung jawab sekaligus bekal amal.
Di sisi lain, Saripudin berharap persoalan pembuangan sampah liar dapat ditangani lebih tegas. Menurutnya, diperlukan aturan yang dapat memberikan efek jera kepada masyarakat yang masih membuang atau menumpuk sampah di tempat-tempat yang tidak semestinya.
"Saya berharap semoga ke depan juga sumber daya kami bisa bertambah sehingga dapat lebih maksimal dalam melayani masyarakat. Karena sampai saat ini masih ada pengembangan perumahan-perumahan baru dan itu tentunya berpengaruh pada daya jangkau tim kami," tuturnya.
Pertumbuhan permukiman membuat wilayah pelayanan ikut meluas. Bagi petugas di lapangan, bertambahnya kawasan tempat tinggal berarti bertambah pula titik yang harus dijangkau.
Karena itu, pekerjaan menjaga kebersihan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas persampahan. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana sampah dikelola sejak dari sumbernya.
"Mari warga Kabupaten Bekasi bersama jaga lingkungan kita. Pelihara lingkungan kita. Karena peduli terhadap lingkungan menghindari kita dari dampak banjir, penyakit dan seterusnya," Pungkasnya.
Cerita tentang petugas persampahan juga datang dari balik kemudi truk.
Dasim (26), sopir armada truk pengangkut sampah di wilayah Babelan, telah menjalani pekerjaan tersebut sejak 2018. Dari awal menjadi kru pengangkut sampah hingga dipercaya menjadi sopir truk, ia mengaku selalu berusaha menjalani pekerjaannya dengan semangat.
Hujan dan panas tidak membuat pekerjaan berhenti. Sampah dari rumah-rumah warga tetap harus diangkut. Dalam menjalankan tugas, ia dan rekan-rekannya juga menghadapi risiko terluka akibat benda-benda tajam yang tercampur di dalam sampah, seperti pecahan kaca maupun ranting pohon.
"Setiap hari saya bersama kru pengangkut sampah membawanya ke TPA Burangkeng. Saya berangkat subuh. Kemudian targetnya jam 1 siang harus sudah berangkat ke TPA Burangkeng. Kira-kira 8-9 jam kami bekerja sehari-harinya," Terang Dasim.
Rutinitas itu dimulai sejak pagi buta. Ketika sebagian besar warga baru memulai aktivitas, Dasim bersama kru sudah berada di jalan untuk mengangkut sampah dari satu titik ke titik lainnya.
Medan yang dihadapi pun tidak selalu mudah.
Mengangkut sampah di gang-gang perumahan, misalnya, membutuhkan kesabaran. Jalan yang sempit sering membuat truk tidak dapat langsung menuju lokasi pengangkutan.
Tak jarang, Dasim harus memutar ke gang lain ketika akses terhalang kendaraan yang diparkir di depan rumah warga.
"Kalau sudah begitu, ya kita terpaksa memutar mencaru jalan yang tidak ada kendaraan di depan rumah warga," tuturnya.
Meski begitu, ada pula pengalaman yang membuat pekerjaan tersebut terasa lebih ringan.
Dasim bersyukur masih banyak warga perumahan yang menunjukkan kepedulian kepada petugas kebersihan. Ada yang sekadar memberikan air minum, makanan, atau menyapa mereka ketika sedang menjalankan tugas.
"Alhamdulillah banyak yang baik kepada petugas kebersihan," Sambungnya.
Tetapi pekerjaan itu juga tidak selalu berjalan tanpa kritik. Dasim mengaku terkadang menerima keluhan dari masyarakat ketika pelayanan pengangkutan sampah mengalami kendala.
Ia memahami bahwa masyarakat menginginkan lingkungannya tetap bersih. Di sisi lain, para petugas juga memiliki keterbatasan yang terkadang tidak terlihat dari luar.
Karena itu, Dasim berusaha menerima kritik tersebut sebagai bagian dari pekerjaan dan tetap meminta maaf kepada masyarakat apabila terdapat pelayanan yang kurang berkenan.
Ada satu hal yang kemudian membuat Dasim semakin bersyukur menjalani pekerjaannya. Setelah bertahun-tahun bekerja mengangkut sampah, kini dirinya telah diakui oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai ASN PPPK.
Status tersebut justru menjadi dorongan baginya untuk bekerja lebih giat.
Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika melihat wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kembali bersih setelah sampah diangkut. Terlebih ketika tidak ada keluhan dari masyarakat.
"Rasanya kalau sudah bersih sangat lega ya. Apalagi sudah tidak ada komplen masyarakat," tuturnya.
Kepuasan itu mungkin sederhana. Tetapi bagi orang yang setiap hari berhadapan dengan sampah, melihat lingkungan yang bersih setelah pekerjaan selesai menjadi semacam tanda bahwa lelah mereka tidak sia-sia.
Setiap hari, Dasim dan kru mengangkat sampah dari rumah-rumah warga dan membawanya menuju tempat pemrosesan akhir. Sampah yang bagi sebagian orang cukup dibuang dari depan rumah, bagi mereka menjadi pekerjaan yang harus diangkat, dipindahkan, dimuat, dibawa, dan akhirnya diturunkan kembali di TPA Burangkeng.
Mereka bekerja dengan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, tetapi pekerjaan mereka bukan sekadar memindahkan sampah. Ada upaya menjaga agar lingkungan tempat masyarakat hidup tetap dapat digunakan dengan nyaman.
"Semoga warga tidak memandang rendah kami sebagai petugas pengangkut sampah ya. Karena kami berupaya menjaga kebersihan dari sampah yang dihasilkan masyarakat juga," Pungkasnya.
Pada akhirnya, lingkungan yang bersih bukan hanya hasil dari sapu yang bergerak atau truk yang mengangkut sampah.
Ada orang-orang yang datang ketika sebagian dari kita masih tidur. Ada yang menghabiskan berjam-jam di jalan. Ada yang harus berhadapan dengan bau, panas, hujan, kemacetan, gang sempit, hingga risiko benda tajam yang tersembunyi di antara tumpukan sampah.
Mereka mungkin tidak selalu dikenal namanya.
Namun setiap kali sebuah jalan kembali bersih, setiap kali sampah di depan rumah terangkut, dan setiap kali lingkungan terasa lebih nyaman untuk ditinggali, ada tangan-tangan mereka yang ikut bekerja di baliknya.
Sampah memang kita hasilkan setiap hari.
Tetapi menjaga agar sampah itu tidak menjadi persoalan lingkungan adalah pekerjaan yang mereka jalani setiap hari pula.
Reporter : Fajar CQA
Editor : Fuad Fauzi