MUARAGEMBONG — Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memfokuskan upaya penanganan pada sejumlah titik tanggul kritis di sepanjang Sungai Citarum, menyusul kejadian jebolnya tanggul di wilayah Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, Senin (19/1/2026) malam.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan bahwa sejak menerima laporan kejadian tanggul jebol di Kampung Bendungan RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, BPBD langsung bergerak cepat dengan menurunkan personel ke lokasi guna melakukan asesmen serta penanganan darurat.
“Begitu ada laporan tanggul jebol, kami langsung mengirimkan personel ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan sementara,” ujar Dodi saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, penanganan sementara dilakukan dengan menyalurkan bantuan logistik darurat berupa bambu, bronjong, karung, dan terpal, guna memperkuat struktur tanggul yang jebol serta meminimalisir potensi dampak lanjutan.
Selain itu, BPBD Kabupaten Bekasi juga sudah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sebagai instansi teknis yang memiliki kewenangan pengelolaan Sungai Citarum.
Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, tim BBWS telah diberangkatkan menuju lokasi kejadian untuk melakukan penanganan teknis lanjutan.
“Koordinasi langsung kami lakukan dengan BBWS Citarum, dan tim teknis saat ini sudah menuju lokasi untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Lebih lanjut Dodi mengungkapkan, hasil kajian sementara di lapangan menunjukkan bahwa jebolnya tanggul dipicu oleh kondisi beberapa titik tanggul yang sudah dalam keadaan kritis, ditambah meningkatnya debit dan tinggi muka air Sungai Citarum akibat curah hujan yang cukup tinggi.
“Awalnya terdapat beberapa titik tanggul kritis. Dengan kondisi debit air Citarum yang terus meningkat, tanggul tidak mampu menahan derasnya arus sehingga terjadi jebol,” ungkap Dodi.
Selain di wilayah Pantai Bakti, BPBD Kabupaten Bekasi juga mencatat adanya sejumlah tanggul kritis lainnya di wilayah Kecamatan Pebayuran dan Cabangbungin. Titik-titik tersebut saat ini menjadi prioritas pemantauan dan penanganan, mengingat potensi hujan susulan masih cukup tinggi.
“Kami khawatir jika terjadi hujan kembali atau kenaikan tinggi muka air Sungai Citarum, maka kondisi tanggul-tanggul kritis tersebut menjadi sangat rawan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah berkoordinasi dengan unsur kewilayahan, termasuk para camat di wilayah yang dilintasi Sungai Citarum, untuk mendata dan melaporkan titik-titik tanggul kritis di wilayah masing-masing. Data tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan dinas teknis dan BBWS Citarum untuk penanganan lanjutan.
Terkait kondisi cuaca, Dodi menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari BMKG, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari dan potensi hujan akan berlangsung hingga April 2026. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menetapkan status siaga darurat bencana sejak September 2025 hingga 30 April 2026.
“Dengan status siaga darurat ini, kami terus meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya pada titik-titik rawan dan tanggul kritis di sepanjang Sungai Citarum,” ujarnya.
Terkait kemungkinan peningkatan status kebencanaan, Dodi menegaskan hal tersebut akan ditentukan berdasarkan eskalasi kondisi di lapangan serta hasil rapat koordinasi lintas sektor, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.
“Semuanya akan kami evaluasi sesuai perkembangan dan eskalasi di lapangan,” pungkasnya.
Reporter : Dani Ibrahim
Editor : Yus Ismail
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 9
Pengunjung Bulan ini : 432309
Total Pengunjung : 4104109