Dari Sawah ke Panggung Budaya, Seni Ujungan Bekasi Terus Hidup Lewat Generasi Muda
BUDAYA
Jul 27, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 111 Kali
Pelaku Seni Ujungan Bekasi Sanggar Margasari Kacrit Putra, Tambun Selatan.
CIKARANG PUSAT – Suara benturan rotan terdengar nyaring, disusul sorak penonton yang menyaksikan setiap gerakan lincah para pemain. Atraksi Seni Ujungan menjadi salah satu penampilan yang memeriahkan Peluncuran Logo Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 Tahun 2026 di Command Center Diskominfosantik, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (27/7/2026). Di balik pertunjukan yang memukau itu, tersimpan sejarah panjang masyarakat agraris Bekasi yang kini kembali mendapat pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Usai menampilkan Seni Ujungan dalam acara tersebut, Ketua Sanggar Margasari Kacrit Putra, Bang Udin Kacrit, didampingi anak didiknya, menceritakan bahwa Ujungan bukan sekadar pertunjukan adu rotan. Seni ini merupakan warisan leluhur yang lahir dari kehidupan masyarakat tani Kabupaten Bekasi sejak puluhan tahun silam.
Tahun ini menjadi momentum membanggakan bagi masyarakat Kabupaten Bekasi. Seni pertunjukan tradisional Ujungan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan. Penetapan tersebut menjadi penguat upaya pelestarian sekaligus membuka peluang agar kesenian khas Bekasi semakin dikenal oleh masyarakat luas, terutama generasi muda.
"Zaman dulu Ujungan dimainkan saat pesta panen. Biasanya digelar pada malam bulan purnama karena saat itu belum ada penerangan. Masyarakat berkumpul merayakan hasil panen, perempuan membawa hasil bumi, sementara para laki-laki memainkan Ujungan," tutur Bang Udin.
Permainan ini, terang Udin, menggunakan tongkat rotan atau bambu sepanjang kurang lebih 80 sentimeter. Dalam aturannya, pukulan hanya diperbolehkan mengenai bagian kaki dari lutut ke bawah. Meski terlihat keras, Ujungan memiliki aturan yang menjunjung tinggi sportivitas dan ketangkasan.
Gerakannya pun tidak sekadar saling memukul. Setiap pemain memadukan teknik silat dengan kelincahan menghindari serangan lawan, sehingga pertunjukan ini menjadi perpaduan antara seni bela diri, ketangkasan, dan hiburan rakyat yang sarat nilai budaya.
Udin menuturkan, di balik permainan tersebut, masyarakat tempo dulu juga memiliki kepercayaan yang unik. Darah yang menetes ke tanah akibat pukulan dipercaya menjadi pertanda kesuburan serta harapan panen yang lebih baik pada musim berikutnya.
"Kalau ada yang terluka hingga mengeluarkan darah, dulu dipercaya panen tahun depan akan lebih baik. Itu bagian dari kepercayaan masyarakat saat itu," ungkap Bang Udin.
Tak heran jika Ujungan juga lekat dengan citra Bekasi sebagai tanah para jawara. Menurut Udin, permainan ini sejak dahulu menjadi ajang menguji keberanian sekaligus kemampuan para pendekar dari berbagai kampung.
"Yang ikut bermain biasanya orang-orang yang berani. Para jawara dari berbagai kampung datang untuk menunjukkan ketangkasan mereka. Tapi setelah selesai bertanding tidak ada dendam. Yang menang maupun yang kalah tetap saling menghormati," katanya.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pelaku seni. Bagi Bang Udin, status tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah untuk terus menjaga agar Ujungan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
"Alhamdulillah, saya sangat bangga. Ini menjadi bukti bahwa Ujungan adalah warisan budaya yang harus terus kita lestarikan," ujarnya.
Harapan itu kini mulai menemukan penerus. Di tengah derasnya arus budaya modern, sejumlah anak muda Kabupaten Bekasi memilih berdiri di arena Ujungan, mempelajari setiap gerakan, filosofi, dan nilai yang diwariskan para pendahulu.
Salah satunya David Kitnasto (40), pelaku Seni Ujungan Bekasi. Menurutnya, menjaga tradisi merupakan tanggung jawab generasi penerus agar identitas budaya daerah tidak hilang ditelan zaman.
"Sebagai generasi muda, kita harus mencintai budaya sendiri. Para senior sudah memberikan ruang dan dukungan kepada kami. Sekarang tugas kami meneruskan perjuangan mereka agar tradisi ini tetap lestari," katanya usai menampilkan Seni Ujungan bersama tiga orang temannya.
Semangat itulah yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dalam berbagai agenda kebudayaan beberapa tahun terakhir, Seni Ujungan rutin ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya lokal kepada masyarakat. Kini, dengan status sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Ujungan diharapkan semakin sering hadir dalam berbagai kegiatan, sehingga tidak hanya dikenal sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bekasi hari ini.
Di setiap ayunan rotan dan setiap langkah para pemain Ujungan, tersimpan cerita tentang keberanian, sportivitas, gotong royong, serta jati diri masyarakat Kabupaten Bekasi. Warisan budaya itu kini berada di tangan generasi muda untuk terus dipelajari, dipertunjukkan, dan diwariskan agar tetap hidup sepanjang zaman.
Reporter : Fajar CQA
Editor : Fuad Fauzi