Jumat, 07 Agustus 2026

Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Dinas Pertanian Terapkan Program PM-AAS di Bojongmangu

PEMERINTAHAN   Aug 5, 2026  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 280 Kali


id13429_Compress_20260805_171839_9262.jpg
Para petani sedang melakukan penerapan Pertanian Modern Agriculture System (PMAS) di Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu, Rabu (5/8/2026). Foto: Jaja Jaelani/Diskominfosantik

BOJONGMANGU – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi melalui Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu mulai menerapkan Program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) melalui sistem tanam benih langsung (Tabela) budidaya padi di lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu, Rabu (5/8/2026).

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori, mengatakan PM-AAS merupakan salah satu inovasi modernisasi pertanian dari Kementerian Pertanian yang dilaksanakan bersama penyuluh pertanian dan kelompok tani sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi budidaya padi.

Menurutnya, pada tahap awal program ini digunakan varietas padi Inpari 33 dengan dukungan fasilitasi dari Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Ciawi.

"Sebelum penanaman dilakukan, kami terlebih dahulu mengolah lahan dan mengecek tingkat keasaman tanah. Hasil pengujian menunjukkan pH tanah di wilayah Bojongmangu berada pada angka 5,5 sehingga perlu dilakukan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 hingga 1.000 kilogram per hektare untuk memperbaiki kondisi tanah," ujarnya.

Ia menjelaskan, pada lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap, yaitu saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Selain itu, sehari sebelum penanaman juga dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma.

Ubuh menambahkan, setelah benih ditanam, lahan tidak boleh digenangi air selama lima hari pertama agar benih tidak membusuk dan terhindar dari serangan penyakit. Selanjutnya dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, kemudian pemupukan pertama diberikan pada umur sekitar 10 hari sesuai dosis anjuran.

"Pada sistem PM-AAS, kebutuhan pupuk memang lebih tinggi dibandingkan pola tanam konvensional karena menggunakan sistem tanam yang lebih rapat. Namun, penerapan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan," katanya.

Ia menuturkan, program PM-AAS di Bojongmangu menjadi lahan percontohan yang diharapkan dapat dikembangkan di setiap desa dengan minimal dua hektare lahan demonstrasi. Dengan demikian, petani dapat melihat secara langsung penerapan teknologi pertanian modern.

"Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi mencapai 10 ton per hektare. Saat ini rata-rata hasil panen petani di Bojongmangu masih sekitar 5 ton per hektare. Melalui PM-AAS kami berharap target tersebut dapat dicapai," ungkapnya.

Pada lahan percontohan tersebut digunakan sekitar 15 kilogram benih Inpari 33 dengan target menghasilkan sekitar 4 ton gabah saat panen.

Ubuh berharap program PM-AAS mampu mendorong petani beralih dari sistem budidaya konvensional menuju teknologi pertanian modern sehingga produktivitas meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, serta mendukung terwujudnya swasembada pangan melalui kolaborasi antara petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, BRMP, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyambut baik pelaksanaan program PM-AAS yang diawali melalui lahan percontohan di wilayahnya.

"Program ini menjadi langkah awal yang sangat baik. Kami berharap hasil uji coba ini dapat menjadi acuan sebelum diterapkan secara lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para petani," katanya.

Ia optimistis penerapan teknologi mulai dari pengaturan pH tanah, pemupukan yang lebih terukur, hingga sistem tanam modern akan mampu meningkatkan hasil panen. Selama ini, produktivitas padi dengan pola tanam konvensional rata-rata masih sekitar 5 ton per hektare, sedangkan melalui PM-AAS ditargetkan dapat mencapai hingga 10 ton per hektare.

Selain penerapan teknologi budidaya, Yusup juga memastikan ketersediaan air untuk musim tanam tetap terjaga. Menurutnya, kelompok tani telah memperoleh bantuan pompanisasi dari pemerintah berupa pompa berkapasitas 6 inci yang didukung jaringan irigasi serta tambahan pompa milik kelompok tani.

"Insyaallah minggu depan kami akan mulai melakukan penanaman di lahan sekitar 30 hektare. Kami berharap program ini berhasil sehingga semakin banyak petani yang menerapkan sistem PM-AAS pada musim tanam berikutnya," tutupnya.

Reporter : Suganda

Editor : Fuad Fauzi

Berita Lainnya

Kejar Target 100 Persen, Pemkab Bekasi Genjot Realisasi Pembangunan
PEMERINTAHAN   Aug 6, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Disdamkar Kabupaten Bekasi Bidik Prestasi Terbaik Ajang Fire Fighter 2027 Tingkat Jawa Barat
PEMERINTAHAN   Aug 6, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
43 Perusahaan Unjuk Keterampilan di Fire Fighter Skills Competition Damkar 2026
PEMERINTAHAN   Aug 6, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Kolonel Inf. Mohammad Benrieyadin Resmi Menjabat Danrem 051/Wijayakarta
PEMERINTAHAN   Aug 6, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Dinas Pertanian Terapkan Program PM-AAS di Bojongmangu
PEMERINTAHAN   Aug 5, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik