CIBITUNG – SDN Wanasari 01 Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, terus mengembangkan inovasi untuk meningkatkan budaya literasi siswa melalui pemanfaatan berbagai ruang baca kreatif. Upaya tersebut menjadi bagian dari kesiapan sekolah dalam menghadapi Akreditasi Perpustakaan yang dilaksanakan pada Rabu (04/11/2026).
Kepala SDN Wanasari 01, Sulistiyowati, mengatakan pihaknya terus melakukan pembenahan dan inovasi untuk menghadirkan lingkungan literasi yang mampu memenuhi kebutuhan seluruh siswa, meskipun dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan luas ruangan perpustakaan.
"Secara kasat mata mungkin ruangan perpustakaan kami sangat sempit, tetapi luas bagi kami dan anak-anak Wanasari 01 yang jumlahnya mencapai 916 siswa. Keterbatasan ruangan tidak mengurangi semangat kami untuk terus maju dan berinovasi," ujarnya.
Menurutnya, pengembangan budaya literasi tidak hanya dilakukan dengan mengandalkan ruang perpustakaan utama, tetapi juga melalui penciptaan berbagai titik baca di lingkungan sekolah. Di antaranya sudut baca di setiap kelas, taman literasi, serta pemanfaatan sejumlah area sekolah sebagai tempat membaca dan bereksplorasi.
"Kami menambah area-area baca anak. Kalau di kelas ada sudut baca, sementara di luar kami menciptakan taman baca. Bahkan panggung sekolah kami manfaatkan sebagai taman literasi agar anak-anak bisa bereksplorasi, tidak hanya membaca, tetapi juga mengembangkan literasi budaya dan keterampilan," jelasnya.
Inovasi lainnya dilakukan dengan memanfaatkan sudut-sudut sekolah, termasuk area kantin sehat, sebagai ruang literasi. Setiap area diberikan nama tokoh dan pahlawan nasional agar siswa semakin mengenal figur inspiratif sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa.
Sulistiyowati menuturkan, salah satu inovasi yang memberikan dampak positif adalah pemanfaatan area tunggu siswa sebagai taman baca. Area tersebut awalnya disiapkan untuk tempat menunggu, khususnya siswa kelas I dan II, tetapi kemudian berkembang menjadi ruang membaca yang diminati anak-anak.
"Awalnya hanya untuk tempat menunggu, tetapi ternyata anak-anak justru memanfaatkannya untuk membaca buku-buku yang sudah kami sediakan. Ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan kemauan, ruang yang terbatas tetap bisa menjadi tempat tumbuhnya budaya literasi," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Asesor Akreditasi Perpustakaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Andi Pargo Simamora, menjelaskan bahwa penilaian akreditasi perpustakaan saat ini tidak hanya berorientasi pada luas bangunan dan kelengkapan fasilitas, tetapi juga memperhatikan kenyamanan, aspek ergonomi, profesionalitas pengelolaan, serta pemanfaatan teknologi informasi.
"Akreditasi perpustakaan bukan hanya dilihat dari luas gedung atau bangunannya. Kami juga melihat aspek ergonomi, bagaimana perpustakaan memberikan kesan pertama yang nyaman ketika pengunjung masuk, serta bagaimana perpustakaan itu benar-benar dimanfaatkan," jelasnya.
Andi menambahkan, terdapat tiga pilar penting dalam pengembangan perpustakaan, yakni ketersediaan sarana dan prasarana, tenaga pengelola yang profesional, serta dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Ketiganya perlu dikembangkan secara seimbang agar perpustakaan mampu mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan generasi digital.
Menurutnya, tantangan perpustakaan sekolah saat ini juga berkaitan dengan penggunaan gawai dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Karena itu, sekolah perlu mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung kebiasaan membaca dan pembelajaran siswa.
"Anak-anak perlu diarahkan agar gadget tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk membaca. Perpusnas memiliki aplikasi iPusnas yang dapat diunduh secara gratis sehingga bisa dimanfaatkan siswa untuk mengakses bahan bacaan digital, baik di sekolah maupun di rumah," katanya.
Ia menegaskan, penilaian akreditasi dilakukan berdasarkan enam komponen Standar Nasional Perpustakaan. Penilaian tersebut juga mengalami perubahan pendekatan, dari yang sebelumnya lebih menitikberatkan pada kondisi fisik perpustakaan menjadi lebih memperhatikan dampak keberadaan perpustakaan terhadap peningkatan literasi siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
"Kami di sini bukan sebagai hakim yang menghakimi, tetapi sebagai asesor yang menilai kelayakan perpustakaan berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan. Yang paling penting bukan hanya kondisi perpustakaannya, melainkan bagaimana keberadaan perpustakaan memberikan dampak terhadap literasi siswa dan guru," tandasnya.(*)
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Yus Ismail
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 20252
Pengunjung Bulan ini : 601221
Total Pengunjung : 4569670