CIKARANG PUSAT — Selalu bangun dari tidurnya sebelum orang lain bangun memulai kehidupannya, dan tidur setelah orang lain terlelap. Bersongkok, sarungan, berbaju koko, dan berselempang sajadah menjadi keseharian. Mereka belajar sejak azan Subuh berkumandang hingga larut malam, mempelajari literatur klasik Islam yang disebut kitab kuning, sambil menghafalnya.
Ada di dalam "penjara suci" (sijnu al-qudsi), ditempa seperti Gatotkaca yang masuk ke dalam kawah Candradimuka. Tetapi bukan untuk kesaktian, melainkan agar mampu menjadi orang yang bermanfaat di lingkungannya dalam menata moral agama di masyarakat. Itulah citra diri seorang santri.
Namun, menjadi santri di Kabupaten Bekasi tidak pernah semata-mata tentang kehidupan di dalam pesantren. Masyarakat Bekasi telah lama mengenal bagaimana santri mengambil bagian dalam perjalanan daerahnya. Sejak perjuangan bangsa merdeka hingga berdirinya Kabupaten Bekasi, kontribusi mereka tidak pernah luput dalam membentuk dan membangun daerah.
Sosok seperti KH Noer Alie yang bergelar pahlawan nasional asal Kabupaten Bekasi, serta KH. R. Ma'mun Nawawi, adalah dua tokoh santri yang kiprahnya terus dikenang. Jauh sebelum kawasan industri menjulang di Cikarang, para santri telah lebih dahulu ditempa untuk menghadapi zamannya.
Di Cibogo, Cibarusah, yang kini masuk wilayah Kabupaten Bekasi, jejak kaum santri melalui Laskar Hizbullah bahkan berkelindan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Di tempat itu, para pemuda pernah ditempa untuk menjadi bagian dari kekuatan perjuangan bangsa.
Sekarang, medannya berubah. Dahulu, perjuangan berlangsung dalam pergulatan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kini, Kabupaten Bekasi tumbuh menjadi salah satu kawasan industri besar. Pabrik-pabrik berdiri, teknologi berkembang, dan kebutuhan dunia kerja bergerak semakin cepat.
Perubahan itu menghadirkan pertanyaan baru: bagaimana santri mengambil peran di tengah arus industrialisasi?
Mustasyar PCNU Kabupaten Bekasi, Dr. RHI. Muhammad Faesal, MH., M.Pd., menilai keberadaan kawasan industri yang sangat besar di Kabupaten Bekasi justru harus dibaca sebagai peluang strategis bagi pengembangan sumber daya manusia pesantren.
Santri, menurutnya, tidak boleh ditempatkan pada pilihan antara agama dan teknologi, antara pendidikan agama dan pendidikan profesional, ataupun antara kesalehan dan kemajuan ekonomi.
"Kita tidak boleh lagi mempertentangkan antara santri yang pandai mengaji dengan santri yang menguasai teknologi, antara pendidikan agama dengan pendidikan profesional, atau antara kesalehan dengan kemajuan ekonomi," ujar Faesal.
Tantangannya adalah bagaimana melahirkan generasi santri yang mampu memadukan ketiganya.
Dari Kitab Kuning ke Dunia Industri
Spiritualitas dan moralitas Islam tetap menjadi fondasi. Kemampuan membaca Al-Qur'an, memahami agama, menghormati kiai, serta memiliki akhlakul karimah merupakan identitas pendidikan pesantren yang tidak boleh ditinggalkan.
Namun, menurut Faesal, santri juga harus kuat secara intelektual dan profesional. Teknologi digital, bahasa asing, keterampilan industri, kewirausahaan, serta kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja modern perlu menjadi bagian dari bekal pendidikan santri.
Dengan begitu, pesantren tidak hanya melahirkan lulusan yang memahami teks keagamaan, tetapi juga manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi daya guna. Kiai pun tidak hanya membimbing santri memahami ilmu agama, tetapi juga menjadi penggerak transformasi pesantren.
Dunia industri diharapkan membuka ruang kolaborasi dengan pesantren melalui pelatihan, magang, pengembangan kompetensi, dan pemberdayaan ekonomi santri. Pemerintah daerah dapat mengambil posisi sebagai fasilitator dan penghubung antara kebutuhan pesantren dengan kebutuhan dunia industri.
Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi penonton ketika kawasan industri tumbuh di sekelilingnya. Mereka harus menjadi bagian dari pertumbuhan itu, bahkan menjadi pelaku, penggerak, inovator, profesional, pengusaha, hingga pemimpin perubahan.
Karena itu, pada momentum Hari Santri Nasional 2026, Faesal mengusulkan agar Kabupaten Bekasi mulai mengembangkan Gerakan Santri Industri Berdaya Saing dan Inovatif. Gerakan ini diarahkan untuk membangun santri yang berakhlak, berilmu, terampil, menguasai teknologi, berjiwa wirausaha, dan memiliki daya saing.
"Santri tidak harus semuanya menjadi kiai, tetapi setiap santri harus membawa nilai-nilai keteladanan para kiai dalam profesi dan bidang pengabdiannya masing-masing," terang Faesal.
Keberhasilan pesantren, menurutnya, tidak harus diukur dari berapa banyak lulusannya yang menjadi ulama atau kiai. Lebih luas dari itu, keberhasilan dapat dilihat dari sejauh mana alumninya mampu mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan tanpa kehilangan identitas dan akhlak kesantriannya.
Membaca Kitab, Membaca Zaman
Untuk sampai ke sana, perubahan tidak cukup dilakukan pada keterampilan teknis. Cakrawala berpikir santri juga perlu diperluas.
Santri tidak boleh hanya menjadi pewaris tradisi keilmuan Islam, tetapi juga harus menjadi pembaca, pengkaji, dan pelaku perubahan peradaban modern. Namun, bukan berarti kitab kuning harus ditinggalkan.
Al-Qur'an, hadis, fikih, ushul fikih, dan pemikiran para ulama tetap menjadi fondasi. Di atas fondasi tersebut, santri perlu memiliki kemampuan memahami filsafat, sosiologi, politik, ekonomi, demokrasi, hak asasi manusia, teknologi, serta perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Menurut Faesal, tradisi intelektual Islam memiliki sejarah panjang dalam berdialog dengan berbagai peradaban. Pemikiran Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap pengetahuan bukan sesuatu yang asing dalam tradisi intelektual Islam.
Karena itu, pemikiran modern yang lahir dari Barat tidak harus diterima seluruhnya, tetapi juga tidak harus ditolak hanya karena berasal dari Barat. Santri harus mampu mengkajinya secara kritis.
Demokrasi, misalnya, dapat dipahami melalui prinsip musyawarah, keadilan, persamaan martabat manusia, dan tanggung jawab sosial. Dalam kerangka itu, kecintaan terhadap agama dan kecintaan terhadap bangsa tidak perlu dipertentangkan.
Santri dapat menjadi seorang muslim yang taat sekaligus warga negara yang memiliki komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta kehidupan demokrasi.
Pesantren pun perlu didorong menjadi pusat dialog intelektual dan transformasi peradaban. Budaya membaca, menulis, berdiskusi, melakukan penelitian, dan mempertemukan pemikiran Islam klasik dengan pemikiran kontemporer perlu tumbuh di lingkungan pesantren.
"Santri tidak cukup hanya menjadi konsumen pemikiran dunia, tetapi harus mampu menjadi produsen gagasan, pemimpin perubahan, dan kontributor bagi kemajuan peradaban," kata Faesal.
Dengan cara itu, santri bukan sekadar mengikuti perubahan zaman. Mereka dipersiapkan untuk ikut menentukan arah pembangunan di masa depan.
Reporter : Fajar CQA
Editor : Yus Ismail
Berita Lainnya
TERPOPULER BULAN INI
Pengunjung hari ini : 6616
Pengunjung Bulan ini : 487134
Total Pengunjung : 4165667