Selasa, 13 Oktober 2026

Sekolah Rakyat Buka Jalan bagi Adit Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan

PENDIDIKAN   Oct 12, 2026  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 68 Kali


id13832_WhatsApp Image 2026-10-12 at 14.24.04.jpeg
CITA-CITA : Menjadi profesor adalah cita-cita besar yang disimpan Aditya Yusuf Firdaus remaja berusia 15 tahun asal Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Di usianya yang masih belia, Adit, sapaan akrabnya, telah menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan keluarganya. Namun keadaan tidak membuatnya berhenti bermimpi. foto : Refky Maulana

CIKARANG PUSAT - Menjadi profesor adalah cita-cita besar yang disimpan Aditya Yusuf Firdaus remaja berusia 15 tahun asal Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Di usianya yang masih belia, Adit, sapaan akrabnya, telah menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan keluarganya. Namun keadaan tidak membuatnya berhenti bermimpi.

Di balik keinginannya meraih pendidikan setinggi mungkin, tersimpan harapan sederhana yang begitu berarti baginya yakni membahagiakan orangtua dan keluarga. Harapan itu menjadi salah satu alasan Adit ingin terus belajar, meski perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus.

Adit merupakan anak kelima sekaligus bungsu dari lima bersaudara, putra pasangan Alm Zainal Arifin dan Catur Suryanti. Semasa hidupnya, sang ayah bekerja di sektor industri pengolahan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Dengan penghasilan keluarga yang kala itu kurang dari Rp1 juta per bulan, keterbatasan ekonomi menjadi tantangan tersendiri bagi Adit untuk melanjutkan pendidikan.

Ketika masih menempuh pendidikan di SMP Plus At Taqwa 12, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Adit pernah mengalami situasi ketika biaya sekolahnya nunggak. Di tengah keterbatasan itu, sejumlah guru memberikan bantuan agar ia tetap bisa belajar dan bertahan sekolah. Semangat dan prestasinya di sekolah menjadi bagian dari perjalanan yang membuatnya memperoleh dukungan itu.

“Jadi yang suka nalangin biayanya itu guru, karena saya sekolahnya bersemangat dan berprestasi untuk sekolah jadi saya dibiayai oleh guru sementara,” tutur Adit mengenang masa-masa ketika masih duduk di bangku SMP Senin, (12/10/2026).

Kepedulian para guru menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya. Di tengah keterbatasan ekonomi, bantuan tersebut memberinya kesempatan untuk tetap bersekolah dan menjaga cita-cita yang ingin diraihnya.

Adit bukan anak yang putus sekolah, setelah menyelesaikan pendidikan SMP, ia justru dihadapkan pada kebingungan untuk menentukan sekolah lanjutan yang sesuai dengan keinginannya dan kondisi keluarga.

“Saya tidak putus sekolah, tapi lagi mencari sekolah setelah Lulus SMP yang saya inginkan seperti apa. Awalnya saya bingung mau melanjutkan kemana hingga terwujudlah bisa sekolah di Sekolah Rakyat program Pemerintah Pusat,” ungkapnya.

Kesempatan melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi kemudian menjadi jalan bagi Adit untuk kembali menata langkahnya. Kini, ia duduk di kelas 10 tingkat SMA dan menjalani keseharian sebagai siswa dengan lingkungan belajar yang baru.

Namun, perjalanan hidup Adit tidak hanya diwarnai perjuangan guna memperoleh pendidikan. Belum lama ini, ia harus kehilangan sang ayah, Zainal Arifin, yang telah meninggal dunia. Pada saat yang sama, ibunya masih hidup, tetapi menurut keterangan yang disampaikan Adit, saat ini mengalami gangguan kesehatan mental.

Kondisi keluarga menjadi bagian dari kenyataan pait yang harus dihadapi Adit. Meski demikian, ia tetap berusaha menjalani pendidikan dan menatap masa depan dengan harapan yang masih ingin diwujudkannya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapinya, Adit tetap menyimpan harapan besar terhadap masa depan. Baginya, kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat bukan hanya tentang melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

“Pertama saya merasa senang sekali, disini saya bisa punya lebih banyak temen, lebih disiplin karena disini tidurnya pun diatur dari awal banget dari jam 9 malam bangun jam 4 Pagi dan itu membuat karakter diri saya semakin terbentuk sehingga beradaptasi dan berkembang,” katanya.

Rutinitas yang teratur membuat Adit belajar membangun kedisiplinan. Ia menjalani kegiatan dengan jadwal tidur pukul 21.00 dan bangun pukul 04.00. Selain mengikuti kegiatan belajar, ia juga beradaptasi dengan lingkungan baru dan menjalin pertemanan dengan siswa lainnya.

“Saya senang banget sekolah disini,” ucapnya.

Kebutuhan sehari-hari selama bersekolah juga menjadi bagian dari pengalaman yang ia syukuri. Adit menceritakan bahwa siswa memperoleh makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam di Sekolah Rakyat.

“Selain makan, di pagi dan siang hari ada pembagian Snack Dua kali dan malam hari ada pembagian buah. Alhamdulillah gizi tercukupi,” tuturnya.

Bagi Adit, pengalaman di Sekolah Rakyat memberinya kesempatan untuk belajar dalam lingkungan yang mendukung. Ia pun berusaha memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh, termasuk mendalami mata pelajaran yang disukainya yakni Sosiologi, Sejarah, dan Bahasa Indonesia.

Ketertarikan terhadap mata pelajaran itu menjadi bagian dari prosesnya mengembangkan pengetahuan. Di usianya yang masih remaja, Adit telah memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan, meski ia menyadari bahwa perjalanan untuk mewujudkannya masih panjang.

“Cita-cita saya mungkin sangat tinggi untuk mencapai impian saya, yaitu menjadi seorang Profesor. Tapi saya ingin bersungguh-sungguh belajar di Sekolah Rakyat ini untuk mencapai cita-cita saya,” ungkapnya.

Cita-cita menjadi profesor bukan sekadar keinginan untuk meraih profesi tertentu. Bagi Adit, pendidikan juga berkaitan dengan harapannya terhadap keluarga, terutama sang ibu yang ingin ia bahagiakan.

“Harapan saya adalah membanggakan orangtua satu-satunya yaitu ibu, saya ingin membahagiakan dia bagaimana pun caranya yaitu dengan cara saya belajar dengan rajin,” tuturnya.

Keinginan tersebut menjadi salah satu alasan Adit untuk terus berusaha. Ia ingin memanfaatkan kesempatan pendidikan yang dimilikinya untuk menambah pengetahuan, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan.

Adit menyadari bahwa keterbatasan ekonomi memang menjadi tantangan dalam meraih cita-cita. Namun, ia berharap keadaan tersebut tidak membuat anak-anak lain kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan dan memperjuangkan impian mereka.

“Teruslah berjuang dan berkarya jangan putus semangat untuk menggapai mimpi di masa depan,” pesannya.

Dari Kelurahan Kebalen, Babelan Adit membawa harapan yang sederhana sekaligus bermakna. Ia ingin terus belajar, meraih masa depan yang lebih baik, dan suatu hari nanti bisa membahagiakan ibunya.

Bagi Adit, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Selama kesempatan untuk belajar masih terbuka, ia ingin terus berjuang. Sebab, di balik cita-cita besarnya menjadi seorang profesor, ada harapan seorang anak yang ingin melihat orang yang dicintainya bahagia.

Reporter : Refki Maulana

Editor : Fuad Fauzi

Berita Lainnya

Sekolah Rakyat Buka Jalan bagi Adit Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan
PENDIDIKAN   Oct 12, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Mensos: Sekolah Rakyat Jadi Solusi bagi Anak dari Keluarga Kurang Mampu
PENDIDIKAN   Oct 8, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Cek Kesehatan Siswa, Langkah Puskesmas Cibarusah Siapkan Generasi Emas 2045
PENDIDIKAN   Oct 1, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Perpustakaan SDN Wanasari 01 Siapkan Koleksi Bacaan Sesuai Minat Siswa
PENDIDIKAN   Sep 28, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Lomba Tingkat II Pramuka Cibitung Ukur Hasil Pembinaan Penggalang
PENDIDIKAN   Sep 25, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik