PHD Harapkan Peningkatan Pemerataan Layanan bagi Jemaah Haji Mandiri
UMUM
Apr 14, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 546 Kali
PHD : Salah satu Pendamping Haji Daerah (PHD) Kabupaten Bekasi, Zuli Zulkipli menyampaikan agar pelayanan terhadap jemaah haji, khususnya yang berstatus mandiri, dapat semakin merata dan optimal, dengan dukungan kebijakan yang adaptif, inklusif, serta berorientasi pada kebutuhan riil jemaah di lapangan. foto : Tata Jaelani
CIKARANG PUSAT – Salah satu Pendamping Haji Daerah (PHD) Kabupaten Bekasi, Zuli Zulkipli menyampaikan agar pelayanan terhadap jemaah haji, khususnya yang berstatus mandiri, dapat semakin merata dan optimal, dengan dukungan kebijakan yang adaptif, inklusif, serta berorientasi pada kebutuhan riil jemaah di lapangan.
Zuli menjelaskan, jumlah jemaah haji mandiri di wilayah Kabupaten Bekasi tergolong cukup besar dan terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan ibadah haji nasional.
Di Kabupaten Bekasi yang ia dampingi, tercatat sekitar 116 jemaah berangkat secara mandiri dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi yang beragam dan membutuhkan pendekatan pelayanan yang lebih fleksibel, humanis, serta responsif terhadap kebutuhan individu masing-masing jemaah.
Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan perlunya penguatan sistem pelayanan agar seluruh jemaah mendapatkan pendampingan yang memadai, profesional, berkelanjutan, serta mampu memberikan rasa aman dan nyaman selama menjalankan rangkaian ibadah haji secara menyeluruh.
“Jemaah mandiri ini jumlahnya cukup signifikan, sehingga ke depan perlu ada perhatian lebih agar mereka juga mendapatkan pelayanan yang optimal, sebagaimana jemaah lainnya, dengan sistem pendampingan yang lebih terarah, terstruktur, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Ia menuturkan, secara umum jemaah yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) telah mendapatkan layanan yang lebih terstruktur, sistematis, dan terorganisir dengan baik sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan ibadah di tanah suci berlangsung secara menyeluruh.
Mulai dari bimbingan manasik hingga proses administrasi, seluruh kebutuhan jemaah KBIH relatif telah terfasilitasi secara optimal melalui lembaga yang memiliki pengalaman, sumber daya manusia, serta jaringan pelayanan yang cukup memadai dan berkelanjutan.
Sementara itu, jemaah mandiri cenderung harus lebih aktif dalam mengurus berbagai kebutuhan secara pribadi, mulai dari pemahaman manasik, kelengkapan dokumen, hingga kesiapan fisik dan mental sebelum keberangkatan ke tanah suci.
“Perbedaannya lebih kepada sistem pendampingan. Di KBIH sudah terfasilitasi dengan baik, sedangkan jemaah mandiri membutuhkan penyesuaian dan kemandirian lebih dalam menjalani prosesnya, sehingga diperlukan dukungan tambahan agar mereka tidak mengalami kendala berarti selama proses ibadah berlangsung,” jelasnya.
Zuli menilai, kondisi tersebut bukan untuk dibandingkan secara negatif, melainkan menjadi bahan evaluasi konstruktif guna meningkatkan kualitas pelayanan secara menyeluruh, berkeadilan, serta mampu menjangkau seluruh kategori jemaah tanpa terkecuali dalam sistem penyelenggaraan haji nasional.
Ia berharap ke depan sistem pelayanan haji dapat semakin terintegrasi, transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi informasi, sehingga tidak ada kesenjangan dalam pendampingan jemaah serta mampu memberikan pengalaman ibadah yang lebih baik bagi seluruh peserta haji.
“Harapannya tentu semua jemaah bisa mendapatkan pelayanan yang setara, karena tujuan utamanya sama, yaitu menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar, serta didukung oleh sistem pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah,” katanya.
Dalam perannya sebagai PHD, Zuli mengaku tetap berkomitmen memberikan pendampingan terbaik kepada seluruh jemaah, tanpa membedakan status keberangkatan, dengan mengedepankan prinsip pelayanan yang humanis, inklusif, serta penuh tanggung jawab sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat luas.
Ia juga melihat hal ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan profesional dalam mendampingi jemaah, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada seluruh jemaah haji dari berbagai latar belakang.
“Kami berupaya hadir untuk semua jemaah, termasuk yang mandiri, agar mereka tetap merasa didampingi dan terbantu selama proses ibadah berlangsung, dengan pendekatan pelayanan yang komunikatif, solutif, serta mampu memberikan rasa tenang dan nyaman bagi jemaah,” ungkapnya.
Reporter : Tata Jaelani
Editor : Fuad Fauzi