Pemkab Bekasi Kerahkan 83 Unit Pompa Air untuk Cegah Kekeringan Lahan Pertanian
PEMERINTAHAN
Aug 20, 2026 -
Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik -
Dibaca : 80 Kali
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menurunkan pompa air untuk membantu mengatasi kekeringan lahan pertanian akibat kemarau panjang.
CIKARANG PUSAT - Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pertanian terus melakukan langkah mitigasi untuk mencegah kekeringan meluas dan mengganggu produktivitas lahan pertanian. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan 83 unit pompa air ke sejumlah wilayah yang rawan kekeringan.
Melalui Tim Brigade Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian), Dinas Pertanian telah menyalurkan 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukuran 3 inci. Pompa tersebut ditempatkan di Kecamatan Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, dan Muara Gembong.
Pompa digunakan untuk mengambil air dari sumber-sumber yang masih tersedia, termasuk sungai, guna memenuhi kebutuhan pengairan sawah yang mengalami kekurangan pasokan air.
Langkah tersebut dilakukan menyusul kekeringan yang saat ini berdampak terhadap sekitar 1.354 hektare lahan pertanian di 15 kecamatan dan 41 desa di Kabupaten Bekasi.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang, mengatakan penanganan kekeringan perlu dilakukan sejak dini agar kondisi tersebut tidak berdampak lebih luas terhadap produktivitas dan produksi padi.
“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” ujar Eem saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Rabu (19/8/2026).
Menurut Eem, hingga saat ini belum terjadi penurunan produksi padi secara signifikan. Namun, berkurangnya debit air untuk mengairi persawahan tetap menjadi perhatian karena berpotensi menurunkan hasil produksi apabila pasokan air tidak segera dipenuhi.
“Di situ pastinya terdampak ada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus harus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” katanya.
Selain pompanisasi, Dinas Pertanian melakukan penanganan jaringan irigasi, termasuk pembersihan saluran dari eceng gondok. Koordinasi juga dilakukan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tetap tersedia.
Dinas Pertanian juga membantu petani memperoleh rekomendasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk mendukung operasional pompa dan alat mesin pertanian. Bantuan tersebut diharapkan dapat mengatasi kendala petani dalam memperoleh solar untuk menjalankan mesin pompa.
Pemantauan kondisi lahan dilakukan secara berkala bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Pembaruan data terus dilakukan agar respons terhadap lahan yang terdampak kekeringan dapat dilakukan dengan cepat,” kata Eem.
Untuk penanganan jangka menengah dan panjang, Dinas Pertanian juga mendorong normalisasi jaringan irigasi bersama BBWS. Sejumlah jaringan yang dinormalisasi antara lain Saluran Sekunder (SS) Balongtua sepanjang 7 kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer, serta Kali Butek sepanjang 1,5 kilometer di wilayah Kecamatan Cabangbungin.
Revitalisasi Kali Butek juga dilakukan pada sejumlah titik dengan panjang 4 kilometer dan 1,5 kilometer guna membantu memperlancar aliran air menuju wilayah pertanian.
Selain itu, Dinas Pertanian bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Perlindungan Pertanian Kementerian Pertanian memberikan dukungan anggaran operator untuk kegiatan normalisasi jaringan irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran.
Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif sekaligus mencegah lahan potensial tidak dapat ditanami akibat kekurangan air. Dinas Pertanian menargetkan produksi padi sekitar 503 ton per musim.
“Target yang ingin kita capai itu 503 ton per musim. Makanya kita coba melakukan penanggulangan dan membantu petani agar jangan sampai lahan-lahan itu tidak tertanami,” jelas Eem.
Sejumlah wilayah masih menjadi sentra produksi padi Kabupaten Bekasi, di antaranya Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi, dan Muara Gembong. Khusus di Kecamatan Pebayuran, produksi padi disebut masih cukup tinggi dengan hasil sekitar 8 hingga 9 ton.
Dinas Pertanian juga mendorong optimalisasi lahan agar dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun melalui dukungan pompanisasi. Upaya tersebut diharapkan mampu mempertahankan produktivitas lahan sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan di Kabupaten Bekasi.
Di tengah ancaman kekeringan, Dinas Pertanian turut memantau ketersediaan beras dengan melakukan pendataan stok di sejumlah penggilingan melalui petugas informasi pasar di tingkat kecamatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan beras tetap terpantau dan menjaga pasokan pangan Kabupaten Bekasi selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Reporter : Fajar CQA
Editor : Yus Ismail