Kamis, 12 Maret 2026

SDN Wanasari 01 Jadi Sekolah Model Implementasi Pembelajaran RAMAH

PENDIDIKAN   Mar 12, 2026  -   Diposting Oleh : Newsroom Diskominfosantik  -  Dibaca : 100 Kali


id12896_WhatsApp Image 2026-03-11 at 15.50.10.jpeg
RAMAH: Didampingi Iswara Ahli Madya Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Dr. Chaerun Anwar salah seorang guru kelas tengah mempraktekan model pembelajaran RAMAH di SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung, pada Rabu (11/03/2026). FOTO: TATA JAELANI/NEWSROOM DISKOMINFOSATIK KAB BEKASI.

CIBITUNG – Program pendampingan implementasi Pembelajaran RAMAH yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat mulai diterapkan di sejumlah sekolah. Salah satu yang menjadi sekolah model dalam program ini adalah SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Iswara Ahli Madya BBGTK Jawa Barat, Dr. Chaerun Anwar, menjelaskan bahwa pembelajaran RAMAH merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk tetap efektif diterapkan selama bulan Ramadan, ketika waktu belajar di sekolah relatif lebih singkat dibandingkan hari biasa.

“Pembelajaran RAMAH ini adalah sebuah model pembelajaran yang memiliki lima tahapan, mulai dari rekognisi pengetahuan hingga pada tahap hasil belajar yang kemudian dikomunikasikan kepada teman sekelas atau bahkan ditampilkan dalam bentuk showcase di sekolah,” ujar Chaerun saat memberikan pendampingan di SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung, pada Rabu (11/03/2026).

Ia menjelaskan, konsep tersebut dirancang agar pembelajaran tetap bermakna meskipun waktu belajar selama Ramadan lebih pendek. Melalui pendekatan ini, berbagai mata pelajaran dapat diintegrasikan dalam satu tema pembelajaran sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

“Melalui pembelajaran RAMAH ini terjadi integrasi antar disiplin ilmu. Misalnya ketika guru mengajarkan IPS, di dalamnya juga bisa beririsan dengan IPA, pendidikan agama, hingga numerasi. Jadi konsep yang dipelajari menjadi satu kesatuan tema yang saling terhubung,” katanya.

Menurutnya, numerasi tidak harus berdiri sebagai materi terpisah, tetapi bisa diintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembelajaran, seperti menghitung grafik, membuat tabulasi data, atau kegiatan lain yang berkaitan dengan pengolahan angka dalam konteks materi yang sedang dipelajari.

“Dengan cara itu, waktu belajar yang singkat di bulan Ramadan tetap bermakna dan target kurikulum tetap tercapai seperti pada hari belajar biasa,” jelasnya.

Chaerun menambahkan, sekolah yang mengikuti program pendampingan ini berasal dari proses pendaftaran terbuka. Para kepala sekolah mendorong guru-gurunya untuk mendaftar hingga kuota terpenuhi.

“Kebetulan SDN Wanasari 01 ini sangat proaktif. Semua guru kelasnya ikut mendaftar sehingga kami menjadikannya sebagai sampel pendampingan agar dapat menguasai metode pembelajaran RAMAH ini,” ungkapnya.

Pendampingan terhadap sekolah dilakukan sebanyak lima kali pertemuan selama lima minggu, dimulai sebelum Ramadan hingga setelah Lebaran. Selama proses tersebut, tim pendamping memberikan observasi, refleksi bersama, serta umpan balik terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan guru.

“Selama Ramadan kami mendampingi guru agar tetap bisa memanfaatkan waktu belajar yang singkat tetapi pembelajaran tetap berisi dan target kurikulum tercapai,” katanya.

Ia menambahkan, program pembelajaran RAMAH sebenarnya telah dimulai sejak Ramadan 2025 dan kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Ke depan, model ini berpeluang diadaptasi secara lebih luas di tingkat nasional.

“Program ini akan terus berlanjut. Bahkan rencananya akan diadaptasi secara nasional, sehingga sekolah seperti SDN Wanasari 01 bisa menjadi sekolah model bagi satuan pendidikan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SDN Wanasari 01 Cibitung, Sulistyowati, mengatakan sekolahnya bisa terpilih menjadi sekolah model karena para guru memiliki semangat tinggi untuk mengikuti program tersebut sejak awal dibuka.

“Ketika ada informasi dari BBGTK, saya langsung menyampaikan kepada guru-guru. Walaupun kuotanya terbatas, kami bergerak cepat dan akhirnya semua guru bisa ikut belajar secara konsisten,” ujarnya.

Ia menilai model pembelajaran RAMAH sangat relevan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang saat ini juga sedang dikembangkan di sekolahnya, karena mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu kegiatan belajar.

“Guru akhirnya menyadari bahwa satu mata pelajaran bisa dikaitkan dengan pelajaran lain. Misalnya saat mengajarkan Pendidikan Pancasila tentang sila pertama, itu bisa dikaitkan dengan kegiatan pesantren kilat di sekolah sekaligus pembelajaran numerasi melalui pengelolaan kotak amal,” jelasnya.

Sulistyowati berharap program tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi peserta didik di sekolahnya.

“Saya sangat bangga dan bahagia karena program ini benar-benar bermanfaat. Tanpa mengeluarkan biaya pun guru bisa meningkatkan kompetensinya melalui program yang difasilitasi pemerintah, dan dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh anak-anak kami,” tutupnya.

SDN Wanasari 01, Kecamatan Cibitung terpilih dalam model pembelajaran RAMAH oleh BBGTK Jabar bersama SDN Mekarsari 06 dan SMPN 2 Kecamatan Tambun Selatan, SDN Jatiwangi 02 dan SDN Sukadanau 06 Kecamatan Cikarang Barat serta SMAN 2 Cikarang Pusat.

Reporter : Tata Jaelani

Editor : Fuad Fauzi

Berita Lainnya

SDN Wanasari 01 Jadi Sekolah Model Implementasi Pembelajaran RAMAH
PENDIDIKAN   Mar 12, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Nia Asep Surya Atmaja : Perempuan Madrasah Pertama bagi Anak
PENDIDIKAN   Mar 7, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Audiensi dengan Plt Bupati, PGRI Kabupaten Bekasi Sampaikan Rekomendasi Pendidikan
PENDIDIKAN   Mar 6, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
Peduli Lingkungan, SMA Negeri 2 Sukatani Selenggarakan Pesantren Ekologi Ramadan
PENDIDIKAN   Mar 2, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik
SMAN 1 Sukatani Tunjukkan Aksi Nyata Peduli Lingkungan di HPSN 2026
PENDIDIKAN   Feb 12, 2026   Posted by: Newsroom Diskominfosantik